BUDAK ORGANISASI

“Eh, kamu daftar BSO apa?”

“Aku galau nih antara A atau B, kamu ikut apa?”

Kilas balik Oktober 2014, ketika saya masih mahasiswa baru lugu nan polos yang berusaha bertobat dari kepasifan masa SMA.

**

Dulu, saya bertekad untuk aktif berorganisasi di kampus karena selama SMA saya bukan siswa yang aktif di sekolah. Tidak pernah ikut OSIS atau ekstra kurikuler apa pun karena ikut kegiatan di luar jadwal akademik berarti harus sampai rumah setelah Maghrib. Maklum, jarak antara rumah dan sekolah memang jauh, ditambah lagi kemacetan Jakarta yang luar biasa jika sudah memasuki jam pulang kerja.

Setelah berstatus mahasiswa dengan jarak kampus kurang dari 300m dari kos, tentu tekad tersebut saya amalkan. Dengan semangat juang 45 saya pilih organisasi yang saya rasa cocok dengan saya. Dengan semangat juang 45 saya ikuti segala tahap seleksi hingga dilantik menjadi anggota. Dengan semangat juang 45 pula saya korbankan waktu serta tenaga untuk berbagai program kerja organisasi yang harus berjalan.

Dan tahun pertama kuliah, jadwal saya selalu penuh dengan kegiatan organisasi.

**

Di akhir tahun pertama kuliah, saya merasa perlu mengabdikan diri lebih jauh lagi untuk organisasi. Pada tahap regenerasi, saya daftarkan diri saya untuk mengikuti seleksi pengurus. Melalui berbagai tahap seleksi, akhirnya saya terpilih untuk menjadi koordinator divisi. Bangga? Tentu, usaha yang saya lakukan (begadang gonjang ganjing  antara berkas, laporan praktikum, dan belajar UAS) membuahkan hasil yang saya inginkan #jumawa. Tentu, siapa yang tidak bangga menjadi petinggi organisasi, pikir saya naif.

Namun, rasa sesal kemudian muncul seiring dengan kewajiban yang harus dipenuhi.

“Gila ngapain sih gue dulu daftar, penjebakan diri banget……coba kalo ga daftar….”

Daya juang nol, ya? Tapi toh kewajiban ini tetap saya jalani dengan sungguh-sungguh. Semua sesal dan sebal biasanya hilang ketika melihat junior mengikuti acara dengan semangat dan senang.

Dan tahun kedua kuliah, jadwal saya masih selalu penuh dengan kegiatan organisasi.

**

Di akhir tahun kedua, saya demisioner dan dengan tulus ikhlas melepaskan jabatan saya kepada penerus berikutnya. Saya bertekad di tahun ketiga  tidak ingin berorganisasi dan akan fokus pada akademik. Nyatanya, tekad tersebut tidak bisa diamalkan maksimal karena saya kemudian diminta menjadi “dewan penasihat” organisasi dan memang sudah terlanjur sayang untuk begitu saja meninggalkan keluarga nemu gede ini.

Tahun ketiga saya dimulai sebagai panitia sebuah olimpiade yang diadakan di kampus. Melihat begitu banyak mahasiswa jenius yang berlomba meraih gelar juara, saya merasa tertantang. Saya juga merasa minder dengan track record lomba saya yang putih bersih macam kertas HVS baru. Ketika saya ceritakan hal ini kepada teman SMA saya, jawabannya,

“Ayo Nov kita pasti bisa, masa jadi budak organisasi mulu?”

HAHAHAHAHAHAHA. BUDAK. ORGANISASI. Bener juga. Dibayar kagak. Capek iya.

**

Tidak, saya tidak menyesal kok ikut organisasi. Banyak sekali pengalaman dan ilmu yang didapat hingga membentuk saya menjadi pribadi seperti sekarang. Banyak pula orang-orang hebat serta teman-teman baru yang saya temui. Tapi mungkin, sudah waktunya keluar dari kenyamanan dan menantang diri dengan hal baru.

Dan di akhir tahun ketiga kuliah, saya ingin jadi budak organisasi yang punya prestasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s